5 Hal Yang merusak Pahala Puasa

5 Hal Yang merusak Pahala Puasa

5 Hal  Yang merusak Pahala Puasa Bulan puasa merupakan bulan yang penuh berkah . yang dimana bulan puasa  tempatnya pahala yang begitu melimpah. Bagaimana tidak banyak pahala, karena berbuat baik sedikit saja akan mendapatkan pahala yang dilipatgandakan contohnya saja membaca kitab suci al quran pahala yang didapat yang biasanya perhuruf hanya 1 derajat  pahala tetapi di bulan ramadhan atau puasa ini 1 huruf alquran mendapatkan 10 kebaikan.

Tetapi terkadang kita tidak menyadari kalau ada apa yang kita perbuat itu bisa merusak pahala puasa. Berikut lima hal yang merusak pahala puasa.

  1.   Tanpa Ilmu

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata:

Artinya:  “Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang rusak karena berjalan tanpa penuntun tadi akan mendapatkan kesulitan dan sulit bisa selamat. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji bahkan dapat celaan.”

Ibnu Taimiyah rahimahullah  berkata:

Artinya : “Siapa yang terpisah dari penuntun jalannya, maka tentu ia bisa tersesat. Tidak ada penuntun yang terbaik bagi kita selain dengan mengikuti ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (Lihat Miftah Dar As-Sa’adah, 1:299)

  1.   Masih menjalankan Maksiat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,:                                                                                                          

Artinya :  “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga saja.” (HR. Ahmad, 2:373. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,:

Artinya :  “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari, no. 1903)

  1.   Pelit dengan harta

Dari ali berkata . , Nabi shallallahu alaihi bersabda

 Artinya : “Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab badui berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi, no. 1984. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

  1.   Menjalankan  Puasa namun tidak shalat

Syaikh Muhammad bin Shalih Al – Utsaimin Rahimahullah  pernah ada yang bertanya ,  ‘ apa hukum  orang puasa  tetapi tidak menjalan shalat “  Beliau menjawab

Artinya : , “Puasa yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat tidaklah diterima karena orang yang meninggalkan shalat berarti kafir dan murtad. Dalil bahwa meninggalkan shalat termasuk bentuk kekafiran adalah firman Allah Ta’ala,:

Artinya : ”Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At-Taubah: 11)

Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda

Artinya : “Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim, no. 82)

  1.   Sholat tarawih super ngebut

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

Artinya : . “ Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya.” (HR. Muslim, no. 756)

Dari Abu Hurairah, beliau berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang shalat mukhtashiron.” (HR. Bukhari, no. 1220 dan Muslim, no. 545).

Ibnu Hajar rahimahullah membawakan hadits  di atas dalam kitab beliau Bulughul Maram, Bab “Dorongan agar khusyu’ dalam shalat.” Sebagian ulama menafsirkan ikhtishor (mukhtashiron) dalam hadits di atas adalah shalat yang ringkas (terburu-buru), tidak ada thuma’ninah ketika membaca surat, ruku’  dan sujud. (Lihat Syarh Bulughul Maram, Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim, 49:3, Asy-Syamilah)

Semoga allah menerima amal kita  di bulan  ramadhan  dan diajarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *