5 Persoalan Hukum Qurban Yang Penting Untuk Diketahui

5 Persoalan Hukum Qurban Yang Penting Untuk Diketahui

5 Persoalan Hukum Qurban Yang Penting untuk Diketahui. Hukum qurban ada dua  pendapat yaitu

  1.   Wajib  Untuk Orang mampu

Pendapat ini berasal dari Abu Yusuf  di dalam salah satu pendapatnya , Rabi’ah , Al Laits bin Sa’ad, Al Aqza’I, Ats Tsauri, dan Imam malik Di dalam salah satu pendapatnya.

Dalil mereka adalah firman Allah ta’ala,

“Dirikanlah shalat dan berkurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2). Hadits ini menggunakan kata perintah dan asal perintah adalah wajib. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diwajibkan hal ini, maka begitu pula dengan umatnya.( Lihat Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 5/77.)

Ditunjukan wajibnya  adalah dari hadits Abu Hurairah, ia berkata kalau rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersabda,

Artinya : “Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rizki) dan tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah no. 3123. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

  1.   Sunnah dan tidak wajib

Pendapat yang kedua ini adalah pendapat dari mayoritas ulama, kalau menyembelih qurban adalah Sunnah Muakkad.  Dan untuk pendapat ini dianut oleh ulama Syafi’iyyah, Ulama Hambali , pendapat ini  merupakan yang paling kuat dari imam malik  dan salah satu pendapat dari Abu Yusuf (murid Abu Hanifah). Pendapat ini juga adalah pendapat Abu Bakr, ‘Umar bin Khattab, Bilal, Abu Mas’ud Al Badriy,  Suwaid bin Ghafalah, Sa’id bin Al Musayyab, ‘Atho’, ‘Alqomah, Al Aswad, Ishaq, Abu Tsaur dan Ibnul Mundzir.

dalil dari mayoritas ulama adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Jika masuk bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih qurban, maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya.” ( HR. Muslim no. 1977, dari Ummu Salamah.) Yang dimaksud di sini adalah dilarang memotong rambut dan kuku shohibul qurban itu sendiri.

Adapun 5 Persoalan hukum qurban yang Penting Kita ketahui

  1.   Larangan Mencukur rambut dan memotong kuku

Adapun dalil larangan mencukur rambut dan memotong kuku bagi Shohibul qurban  yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan oleh al Jama’ah kecuali Al Bukhari yaitu dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha,

Artinya : “Jika kalian telah menyaksikan hilal Dzulhijjah (maksudnya telah memasuki satu Dzulhijah, pen) dan kalian ingin berqurban, maka hendaklah shohibul qurban membiarkan (artinya tidak memotong) rambut dan kukunya.”  (HR. Muslim no. 1977.)

  1.   Hukum Mewakilkan Qurban

Apakah boleh shohibul qurban mewakilkan penyembelihan dan penyaluran kurban pada orang lain? Seperti Contohnya  mentransfer uang dan berniat kurban di daerah yang kekurangan.

Dalam Bulughul Marom pada hadits no. 1362 disebutkan,

Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padaku untuk mengurus unta (unta hadyu yang berjumlah 100 ekor, -pen) milik beliau, lalu beliau memerintahkan untuk membagi semua daging kurban, kulit dan jilalnya (kulit yang ditaruh di punggung unta untuk melindungi diri dari dingin) untuk orang-orang miskin. Dan aku tidak boleh memberikan bagian apa pun dari hasil kurban kepada tukang jagal (sebagai upah).” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 1707 dan Muslim no. 1317).

  1.       Niatan Qurban Untuk Mayit

Para ulama berselisih pendapat mengenai kesahan qurban untuk mayit jika bukan karena wasiat. Dalam madzhab Syafi’i, qurbannya tidak sah kecuali jika ada wasiat dari mayit. Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Al Minhaj, “Tidak sah qurban untuk orang lain selain dengan izinnya. Tidak sah pula qurban untuk mayit jika ia tidak memberi wasiat untuk kurban tersebut.”

Yang masih dibolehkan adalah berqurban untuk mayit namun sebagai ikutan. Misalnya seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya termasuk yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Dasarnya adalah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berqurban untuk dirinya dan keluarganya, termasuk di dalamnya yang telah meninggal dunia. (Lihat Talkhis Kitab Ahkamil Udhiyyah wadz Dzakaah, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 12-13)

  1.       Pembagian Sepertiga dari Hasil Qurban

Hasil sembelihan qurban dianjurkan dimakan oleh shohibul qurban. Sebagian lainnya diberikan kepada fakir miskin untuk memenuhi kebutuhan mereka pada hari itu. Sebagian lagi diberikan kepada kerabat agar lebih mempererat tali silaturahmi. Sebagian lagi diberikan pada tetangga dalam rangka berbuat baik. Juga sebagian lagi diberikan pada saudara muslim lainnya agar semakin memperkuat ukhuwah.” (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 5612, 11: 423-424)

  1.       Waktu Penyembelihan Qurban

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih qurban sebelum shalat (Idul Adha), maka ia berarti menyembelih untuk dirinya sendiri. Barangsiapa yang menyembelih setelah shalat (Idul Adha), maka ia telah menyempurnakan manasiknya dan ia telah melakukan sunnah kaum muslimin.” (HR. Bukhari)

Sedangkan mengenai waktu akhir dari penyembelihan qurban, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhohullah menjelaskan, “Yang hati-hati bagi seorang muslim bagi agamanya adalah melaksanakan penyembelihan qurban pada hari Idul Adha (10 Dzulhijjah) sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan dan hal ini lebih selamat dari perselisihan para ulama yang ada. Jika sulit melakukan pada waktu tersebut, maka boleh melakukannya pada 11 dan 12 Dzulhijjah sebagaimana pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Wallahu a’lam.” Sedangkan yang menyatakan bahwa waktu penyembelihan pada seluruh hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) dibangun di atas riwayat yang dhaif. (Lihat Fiqhul Udhiyah, hal. 119)

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *