7 Syarat Hak Asuh Anak dalam Hukum Islam

7 Syarat Hak Asuh Anak dalam Hukum Islam

Seorang  anak merupakan amanah sekaligus karunia  yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala berikan  yang senantiasa harus dijaga karena dalam diri seorang anak telah melekat harkat, martabat, dan juga hak-hak sebagai seorang manusia yang harus selalu dijunjung tinggi. Dalam Penjelasan tentang hak asuh anak sebagai manusia ini bisa jadi tidak bisa terpenuhi karena kedua orang tuanya bercerai. Jika kita lihat dari sisi hak seorang anak yang masih kecil dan belum bisa hidup  mandiri, pengasuhan (hadhânah) adalah suatu perbuatan yang wajib dilaksanakan oleh kedua orang tuanya, karena tanpa hadhânah ( pengasuhan)  anak bisa menjadi terlantar yang berarti mereka akan kehilangan hak-haknya.

Pengertian Hadhanah

Kata dari  hadhânah adalah suatu bentuk mashdar dari kata hadhnu ash-shabiy, yang memiliki makna mengasuh atau memelihara anak.

Pengertian Hadhanah Secara terminologis, hadhânah adalah menjaga atau mengasuh  anak yang dimana anak tersebut belum bisa mengatur dan merawat dirinya sendiri atau belum bisa mandiri, dan belum begitu  mampu menjaga dirinya sendiri dari hal-hal yang bisa membahayakan dirinya. Hukum hadhânah ini hanya akan berlaku  disaat pasangan suami istri bercerai dan mempunyai anak yang belum cukup umur untuk pisah dari ibunya. Hal ini disebabkan karena  anak masih membutuhkan  penjagaan, pengasuhan, pendidikan, perawatan dan melakukan berbagai hal demi kemaslahatannya.Inilah yang dimaksud dengan perwalian (wilâyah).

Dalam hak mengasuh dan merawat anak yang dimana anak tersebut belum bisa mengurus dirinya sendiri hingga mencapai usia Tamyiz. Maka hak asuh anak akan jatuh kepada ibunya hingga anak tersebut mencapai tamyiz dan di usia tamyiz ini anak bisa memilih ikut bapak atau ibu.

Ada pertanyaan , mengapa ibu yang terpilih untuk mengasuh?   Karena Seorang ibu bisa mencurahkan kasih sayang dan juga lebih sabar  di dalam mengasuh anak  juga akan lebih telaten.

 “Sungguh ibu lebih berhak atas pengasuhan daripada ayah karena beberapa alasan berikut: pertama, kasih sayangnya lebih luas serta kesabarannya lebih besar dalam menanggung beban pengurusan dan pendidikan; kedua, ibu lebih lembut dalam mengasuh dan menjaga anak-anak, dan lebih mampu mencurahkan perasaan dan kasih sayang yang mereka butuhkan.” (Musthafa al-Khin dkk., al-Fiqh al-Manhaji, jilid IV, halaman 191).  

Memang seorang ibu yang akan terpilih mengasuh anak yang belum cukup umur  untuk merawatnya  setelah terjadi perceraian. Tetapi terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi . Syaikh Ibnu Qasim al-Ghazi memberikan penjelasan 7 syarat hak asuh anak dalam Hukum Islam yaitu:

  1. Memiliki akal Yang sehat. Karena seorang perempuan yang tidak memiliki akal sehat(Gila), tidak diperbolehkan untuk mengasuh anak. Tetapi jika ia gilanya hanya sedikit contohnya  dalam setahun gilanya hanya sehari saja , maka hak dalam pengasuhan tidak batal
  2. Merdeka. Karena di zaman dahulu masih adanya pemberlakuan perbudakan manusia , dan zaman tersebut  seorang budak tidak memiliki hak asuh anak.
  3. MUSLIMAH, Karena seorang yang beragama muslim tidak diperbolehkan untuk diasuh oleh Non Muslim
  4. Punya sifat ‘Iffah atau  bisa menjaga kehormatan dirinya
  5. Dapat Dipercaya , karena anak tidak boleh diasuh oleh wanita yang fasik, karena jika diasuh dengan wanita yang fasik maka anak tersebut setelah besar akan menjadi orang yang fasik.
  6. Memiliki tempat tinggal yang tetap. Dalam hal ini memang sangat penting, karena jika seorang ibu tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap,  secara tidak langsung anak tersebut akan susah dalam memenuhi kebutuhan si anak.
  7. Belum Menikah  lagi dengan seorang laki-laki yang belum mempunyai hubungan mahram.

Dengan 7 syarat diatas  maka seorang anak kebutuhannya akan selalu terpenuhi seperti mendapatkan perlindungan diri, jaminan pendidikan ,selamat agama dan akhlaknya dan selalu sehat jasmani dan rohaninya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *