Apakah Puasa Sunnah Bisa Digabung Dengan Bayar Hutang Puasa?

Apakah Puasa Sunnah Bisa digabung dengan bayar hutang puasa? untuk permasalahan  bayar hutang puasa ramadhan digabung dengan puasa sunnah  ini masuk dalam pembahasan bentuknya diantaranya adalah menggabungkan antara ibadah wajib dan sunnah dengan satu niat.

Perlu kita ingat barangsiapa yang berniat dalam ibadah sunnah, tidak bisa mencukupi untuk  puasa yang wajib. Contoh, siapa yang berniat puasa asyura, ia tidak bisa dianggap mengerjakan qadha puasa.

Tetapi , untuk siapa saja yang memiliki niat qadha Puasa ramadhan (sebagai niatan Pokok) dan sengaja dibuat tepat dengan puasa sunnah asyura, maka puasanya sah. Dan diharapkan ia akan mendapatkan pahala puasa asyura  begitu menurut sebagian ulama.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Fatawa Ash-Shiyam (hlm. 438) menyatakan bahwa siapa yang berpuasa Arafah atau Asyura sedangkan ia memiliki qadha puasa Ramadhan, puasanya sah. Namun, kalau ia berpuasa qadha Ramadhan pada hari Arafah atau Asyura, ia akan mendapatkan dua pahala yaitu pahala puasa Arafah atau Asyura sekaligus puasa qadha. Hal ini berlaku pada puasa mutlak yang tidak terkait dengan puasa Ramadhan. Puasa yang terkait dengan Ramadhan adalah puasa enam hari di bulan Syawal. Puasa Syawal ini mesti dilakukan setelah qadha puasa telah selesai. Jika ada yang mengerjakan puasa Syawal tanpa didahului qadha puasa, pahala puasa Syawal tidak ia dapati. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa berpuasa Ramadhan kemudian ia ikutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” Apabila seseorang masih memiliki qadha puasa berarti ia belum dikatakan berpuasa Ramadhan dengan sempurna.

Dalam meng qadha puasa ramadhan yang lebih baik adalah menyegerakan membayarnya. Karena lebih utama dibandingkan menjalankan puasa sunnah. Tetapi, kalau mempunyai waktu yang sempit dan puasa qadha belum bisa  diselesaikan semua,  dan bisa luput dari momen puasa spesial seperti puasa Asyura dan arafah, maka hendaklah berpuasa dengan niat qadha , lalu di pas-kan dengan momen puasa spesial- semoga dengan itu dapat meraih pahala puasa Asyura dan Arafah pula.

PUASA – PUASA SUNNAH YANG DITUNTUNKAN DALAM ISLAM

  1.   Puasa 6 hari pada bulan syawal

Dari Abu Ayyub Al-Anshari bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Artinya : “Barang siapa berpuasa Ramadhan, kemudian melanjutkan dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka seperti ia berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)

  1.   Puasa Pada hari Arafah untuk yang tidak melaksanakan Ibadah haji

Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam Bersabda,

 “Puasa pada hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim)

  1.   Puasa Pada Hari Asyura ‘ (10 Muharram )  dan sehari sebelumnya

Dari abu Qotadah bahwasanya nabi Shallallahu alaihi wasallam   Bersabda,

“Puasa pada hari ‘Asyura’, aku berharap kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim)

  1.   Memperbanyak puasa di bulan sya’ ban

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata:

“Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan tidaklah saya melihat  beliau memperbanyak puasa dalam suatu bulan seperti banyaknya beliau berpuasa pada bulan sya’ban.” (HR. Bukhari)

  1.   Memperbanyak Puasa Di Bulan Muharram

Berdasarkan hadits Dari Abu Hurairah  radhiyallahu ‘ anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘ alaihi wasallam Bersabda:

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yakni bulan Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

  1.   Puasa hari senin Dan kamis

Rasulullah Shallallahu ‘ alaihi wa sallam Bersabda:

 “ Amal-amal ditampakkan pada hari senin dan kamis, maka aku suka jika ditampakkan amalku dan aku dalam keadaan berpuasa.” (Shahih, riwayat An-Nasa’i)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa pada hari senin, beliau bersabda:

“Ia adalah hari ketika aku dilahirkan dan hari ketika aku diutus (atau diturunkan (wahyu) kepadaku ).” (HR. Muslim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *