Bagaimana Cara Mengeluarkan Zakat Tijarah?

Bagaimana Cara Mengeluarkan Zakat Tijarah?

Bagaimana Cara Mengeluarkan zakat tijarah? Zakat tijaroh sama dengan zakat perdagangan  tata cara mengeluarkan zakat tijarah sama saja dengan zakat perdagangan. Dengan syarat-syarat yang telah ditentukan sesuai dengan yang  telah ditentukan oleh syariat. Berikut syarat zakat barang dagangan

  1.   Barang yang dimiliki sudah menjadi milik sendiri dengan cara yang mudah dengan cara cari untung ( Mu’awadhat) seperti jual beli dan sewa atau secara Cuma-Cuma n(tabarru’at) yaitu hadiah atau wasiat.
  2.   Barang yang dimiliki bukan termasuk harta yang asalnya wajib dizakati contohnya hewan ternak, emas dan perak. Karena tidak boleh ada dua kewajiban zakat dalam satu harta sesuai dengan kesepakatan ulama. Dan zakat pada emas dan perak  contohnya itu lebih kuat dari zakat perdagangan, sebab zakat telah disepakati oleh para ulama. Terkecuali jika zakat tersebut dibawah nisab , maka bisa jadi itu terkena zakat tijarah.
  3.   Barang yang dimiliki yang dari pertama dibeli sudah diniatkan untuk diperdagangkan sebab sebuah amalan semua tergantung dari niatnya. Dan tijarah (perdagangan) adalah termasuk juga amalan, oleh karena itu harus ada niat untuk didagangkan seperti halnya niatan dalam amalan lainnya.
  4.   Sudah mencapai nishab nilai barang  dari emas atau perak, dimana yang paling hati-hati dan lebih membuat bahagia orang miskin. Seperti yang dijelaskan kalau nishab perak itulah yang lebih rendah dan nantinya yang jadi patokan dalam nishab.
  5.   Sudah mencapai haul ( Melalui masa satu tahun hijriyah). Jika barang  dagangan saat pembelian menggunakan mata uang yang telah mencapai nishab atau harganya telah melampaui nishab emas atau perak, maka haul dihitung  dari waktu pembelian tersebut.

Jika ada pertanyaan dari masyarakat , Wajibkah zakat tijarah (perdagangan)? Berikut jawaban dan pembahasannya:

Zakat tijarah (perdagangan)  menurut mayoritas ulama’ dari zaman sahabat ,tabi’in , dan fuqaha’ setelah mereka, barang dagangan wajib dizakati (Fiqhus Sunnah 1/291).  Pendapat ini diriwayatkan oleh Umar dan putranya, juga dari Ibnu abbas. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh fuqaha’ tujuh yaitu: hasan  Al-bashri, Jabir bin Zaid, Maimun bin Mihran, Thawus, Nakha’I, Tsauri, Auza’ I, Abu hanifah, Ahmad, Ishaq dan abu Ubaid. [ Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 25/15]

Adapun dalil yang memperkuat dari Jumhur ulama sebagai berikut:

  1.   Allah Subhanahu wa ta’ala Berfirman :

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kalian”. [al-Baqarah: 267]

Mujahid mengatakan: “Ayat ini diturunkan mengenai masalah perdagangan/tijarah”. [Subulus Salam 2/277; Kifayatul Akhyar 1/177; Syarhus Sunnah 3/349; Sunan Kubra 4/146; Sunan Sughra 1/319; Aunul Ma’bud 4/425]

  1.       Dalil kedua  Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman:

Artinya:  “Ambillah sedekah (zakat) dari harta mereka untuk membersihkan dan mensucikan mereka dengan sedekah itu”. [at-Taubah: 103]

Berdasarkan ayat ini  maka Seluruh harta benda harus dizakati kecuali harta yang telah ditetapkan Oleh Sunnah dan ijma’ . [Muwaththa’ Syarh Zarqani 2/148]

  1.   Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam Bersabda:

Artinya “Dari Samurah bin Jundab: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk mengeluarkan sedekah dari barang yang kami sediakan untuk perniagaan” [HR. Abu Daud no. 1587, Baihaqi 4/141-147. Lihat Irwa’ no. 827]

 Perhitungan Zakat Tijarah

Perhitungan zakat barang dagangan = nilai barang dagangan* + uang dagang yang ada + piutang yang diharapkan – utang yang jatuh tempo**.

* dengan harga saat jatuh haul, bukan harga saat beli.

** utang yang dimaksud adalah utang yang jatuh tempo pada tahun tersebut (tahun pengeluaran zakat).  Jadi bukan dimaksud seluruh hutang pedagang yang ada. Karena jika seluruhnya, bisa jadi ia tidak ada zakat bagi dirinya.

Kalau mencapai nisab, maka dikeluarkan zakat sebesar 2,5% atau 1/40.

Contoh:

Bapak Dirgantara mulai membuka toko dengan modal 250 juta pada bulan Muharram 1432 H. Pada bulan Muharram 1433 H, perincian zakat barang dagangan Bapak Dirgantara sebagai berikut:

– Nilai barang dagangan = Rp.120.000.000

 – Uang yang ada                 = Rp.30.000.000

– Piutang                              = Rp.30.000.000

– Utang                                  = Rp.60.000.000 (yang jatuh tempo tahun 1433 H)

Perhitungan Zakat

= (Rp.120.000.000 + Rp.30.000.000 + Rp.30.000.000 – Rp.60.000.000) x 2,5%

 = Rp.120.000.000 x 2,5%

 = Rp.3.000.000

Semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *