Beda Pola Makan Muslim dan Kafir Serta Akibat di Baliknya

Beda Pola Makan Muslim dan Kafir Serta Akibat di Baliknya

Beda Pola Makan Muslim dan Kafir Serta Akibat di Baliknya

Sebagai umat Muslim, kita diajarkan untuk menjaga pola makan melalui ibadah puasa. Muslim dianjurkan untuk mengikuti jejak Rasulullah SAW. Tuntunan dalam hal makan yang diberikan Nabi selain menyehatkan, juga merupakan bagian dari akhlak yang baik.

Dalam menjalankan Ibadah puasa, umat muslim memiliki waktu makan yang lebih teratur dibandingkan saat tidak berpuasa, sehingga kesehatan lebih terjaga.

Berdasarkan ahli kesehatan mengungkapkan bahwa makan dengan waktu yang teratur dapat memberikan manfaat seperti

Ada banyak manfaat dari makan tepat waktu dan teratur, yang salah satunya adalah dapat membantu terhindar dari penyakit maag. Melewatkan waktu sarapan, telat makan siang atau makan sampai waktu perut lapar yang dibiasakan bisa memicu sakit maag. Mukosa yakni selaput lendir yang melapisi lambung akan robek karena asam lambung sehingga pola makan yang baik sangat berhubungan dengan produksi asam lambung tersebut. Jika makan tidak teratur, maka akan membuat lambung sulit beradaptasi dan akhirnya timbul rasa perih serta mual. Makan tepat waktu menjadi solusi maag terbaik yang bisa dilakukan dan sebenarnya juga sangat mudah asalkan dijadikan kebiasaan.

Dalam Islam, salah satu cara mengatur pola makan adalah dengan berpuasa.

Hal ini sebagaimana hadis Nabi, “Shumu tashihu” Yang artinya, “Berpuasalah karena itu menyehatkan.” Dalam hadits lain, Nabi juga bersabda:

 لِكُلِّ شَيْءٍ زَكَاةٌ وَزَكَاةُ الْجَسَدِ الصَّوْمُ 

“Likulli syai’in zakaatan, wa zakatul-jasadi as-shaumu.” Artinya: “Segala sesuatu mempunyai zakatnya, dan zakat jasad adalah puasa.”

Nabi Muhammad SAW menjelaskan perbedaan orang Mukmin dengan kafir dalam proporsionalitasnya mengkonsumsi makanan untuk kebutuhan hidupnya.

Abu Hurairah pernah menceritakan tentang orang kafir yang makan sangat banyak melebihi porsinya. Setelah masuk Islam, orang itu justru makan sedikit sekali. Lalu hal tersebut pun disampaikan kepada Rasulullah. Rasulullah SAW bersabda:

المؤمن يأكل في معي واحد، والكافر يأكل في سبعة أمعاء 

“Innal-mukmina ya’kulu fi mi’an waahidin, wal-kaafira ya’kulu fi sab’ati am’aa’in.”

Yang artinya, “Orang beriman makan dalam satu usus, sedangkan orang kafir makan dalam tujuh usus.”

Menurut para ulama hadis, perkataan Rasulullah SAW tersebut merupakan kiasan bahwa sifat orang Mukmin itu tidak rakus dalam makan. Sebaliknya, sifat orang kafir itu rakus dan memakan apa pun melebihi porsinya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *