Berhakkah Istri Menolak Tinggal Serumah Dengan Mertua

Berhakkah Istri Menolak Tinggal Serumah Dengan Mertua

Islam mengajarkan secara detail segala urusan  dan permasalahan di dunia ini. Sekarang adanya pertanyaan berhakkah istri menolak tinggal serumah dengan mertua? Berikut  akan kita bahas

Para suami hendaknya memperhatikan hak istri sebagai berikut: Diantara hak istri yang wajib ditunaikan oleh suami adalah menyediakan tempat tinggal  yang aman bagi  istrinya.  Dan tidak boleh bagi suami menempatkan bersama istrinya, orang lain yang kira-kira akan membahayakan atau tidak disenangi  oleh istri keberadaannya walaupun itu dari keluarga suami , semisal ibunya, adiknya, bapaknya, dan sebagainya.

Kemudian bolehkah istri menolak tinggal serumah dengan mertua?

Maka disini ada sebuah fatwa dari ulama yang bernama Syaikh shalih Al- fauzan di dalam kitabnya beliau  Al – Muntaqa. Beliau berkata  “selama istri anda tidak ingin tinggal di rumah orang tua Anda, Maka anda ( Para suami) tidak bisa memaksa. Sebisa mungkin anda yakinkan orang tua anda mengenai masalah tersebut, tempatkanlah istri di rumah sendiri , dan tetapkan berbakti kepada orang tua, Menghubungi,  berbuat baik kepada orang tua semampu anda.

islam adalah agama yang  sempurna, sangat memahami psikologi hal ini. Istri dan mertua perempuan adalah wanita yang memakai perasaan dan bahkan mendahulukan perasaan. Bisa jadi  akan terjadi ketidak cocokan , perbedaan pemikiran mulai dari dapur, pengaturan rumah, bahkan kebijakan dalam rumah tangga.  Bisa jadi istri sekedar salah menaruh letak piring di rak dapur, ini bisa  menjadi masalah besar dan berkelanjutan terus – menerus, oleh karena itu hak istri sangat besar.

Hak istri yang sangat dasar adalah mendapatkan tempat tinggal, seperti rumah sendiri meskipun kecil dan ngontrak. Lalu bagaimana jika seorang istri tidak mau tinggal serumah dengan mertua ? apa solusinya?   Ada beberapa solusi untuk permasalahan ini yaitu

          Apabila rumahnya besar, maka rumah bisa disekat dipisahkan dapurnya. Apabila dua lantai , bisa dipisahkan lantai 1 dan lantai 2, pisahkan dapurnya,pisahkan peralatan rumah, dan pisahkan kebijakan pengaturan rumah, antara istri dan mertua.

          Jika kita sebagai suami termasuk orang yang mampu , maka kita bisa membeli rumah atau bisa kita mengontrak rumah yang dekat dengan rumah orang tua. Sehingga  bisa mengunjungi orang tua secara rutin, atau bisa setiap hari  mengunjungi orang tua.

Akan tetapi jika memang terpaksa  harus tinggal , maka suami harus sering –sering membesarkan hati istri , menghibur , bahkan meminta maaf. Karena  tidak menunaikan hak utama istri dalam pernikahan. Seperti contohnya  berkata kepada istri  “ Maafkan aku istriku , saya harus berbakti kepada orang tua. Mereka sedang sakit dan perlu serumah, tidak apa-apa ya, semoga nanti  anak-anak kita berbakti kepada ibunya karena ,melihat saya berbakti kepada ibu saya.”

 Intinya istri sering-sering dibersihkan hatinya, dihibur, sering meminta maaf,dan tetap diusahakan rumah sendiri walaupun ngontrak dan rumah kecil, agar istri menjadi  “ratu di rumah sendiri”.  Intinya semua ini adalah dimusyawarahkan dibicarakan baik-baik, dan semoga rumah tangga kaum muslimin di jaga  oleh allah subhanahu wa ta’ala, aamiin…

Suami  dan istri harus saling komunikasi, dan selalu mengambil keputusan bersama, dan tidak ada yang dirugikan dan tidak ada yang tersakiti.  Selalu berfikir semua masalah dalam rumah tangga adalah suatu ujian yang allah berikan kepada kita untuk meraih surga nya allah subhanahu wa ta’ala di akhirat nanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *