Bolehkah Mengucapkan “Rezeki Anak Shalih”

Bolehkah Mengucapkan “Rezeki Anak Shalih”

Saat ini ucapan terkait “Rezeki Anak Shalih” sudah menjadi ucapan yang sering kali kita dengar baik dari teman teman, keluarga, dan bahkan mungkin diri anda sendiri pernah mengucapkan kata kata tersebut.

Kata kata tersebut terkadang juga menjadi sebuah perbincangan di berbagai kalangan terkait bolehkah kita mengucapkan kata kata tersebut saat memperoleh rezeki, pujian dan semacamnya.? Untuk jawaban dari pertanyaan para sahabat disebut, silahkan simak penjelasannya di bawah ini.

Bismillah,

Ikhwah fillah a’azzaniyallah wa iyyaakum,

Hal pertama yang mesti dilakukan saat mendapatkan nikmat adalah bersyukur kepada Allah Ta’ala yang menganugerahkannya dan sebisa mungkin hindari perbuatan yang menyandarkan nikmat itu pada selain-Nya, karena dikhawatirkan terjatuh ke dalam kesyirikan atau kesombongan.

Ucapan “rezeki anak shalih” yang latah diucapkan sebagian saudara kita dianggap sebagai bentuk penyucian diri sendiri yang merupakan tipu daya syaithan. Seolah-olah nikmat ini datang karena keshalihan diri sendiri. Perbuatan ini dilarang oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya :

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Diaah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS. An Najm: 32)

Batasan shalih itu adalah Al-Quran dan as-Sunnah. Sebelum “membanggakan diri” dengan keshalihan, hendaknya kita teladani sikap Shahabat terbaik Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallaahu ‘anhu ketika mendapatkan pujian.

Beliau berkata :

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khairam mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.

“Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka.” [Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25: 145, Asy Syamilah]

Ini keadaan sahabat terbaik yang dipuji orang lain. Lalu masih pantaskah kita memuji diri sendiri? “Seberapa shalih kita dibandingkan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu?” Pertanyaan ini yang mesti kita ingat, saat terbersit keinginan untuk mensucikan diri.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita semua dari perbuatan tercela seperti itu dan membimbing kita ke jalan-Nya yang lurus. Hadaana Allah shirathahul mustaqiim. Aamiin.

Baarakallaah fiikum…

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *