Dosa Hutang Tak Diampuni Oleh Allah Sekalipun Mati Syahid

Dosa Hutang Tak Diampuni Oleh Allah Sekalipun Mati Syahid

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘ Utsaimin rahimahullah berkata, “  jika seseorang berperang  di jalan allah dengan sabar. Berharap pahala dari Allah, dan bersifat pengecut di medan perang, maka dosa-dosanya  diampuni terkecuali  kalau ia memiliki hutang.hutang tidak menjadi  lunas (gugur) hanya karena yang berperang itu dalam kondisi mati syahid.  Sebab hutang adalah hak sesama manusia . dan hak manusia mestilah di tunaikan.

Inilah yang menjadi dalil tentang bahayanya berhutang. Tidak pantas bagi seorang muslim meremehkan masalah hutang. Tetapi  di zaman sekarang ini, berhutang sangat lah mudah dan sudah menjadi  kebutuhan.  seseorang ada yang sengaja berhutang (dengan cara  kredit) padahal ia sebenarnya barang yang ia beli tidak begitu dibutuhkan, barang  yang ia beli hanyalah barang pelengkap saja, dan  Ia membeli barang tersebut dengan cara  kredit atau semacamnya. Nyatanya.

Adapun seseorang yang dalam kondisi miskin  membeli mobil dengan nominal harga 80.000 riyal (240 juta rupiah) padahal sebenarnya ia cukup menyewa saja dengan 20.000 riyal .  tetapi   karena kurangnya kepedulian dengan ilmu agama dan lemahnya keyakinan

Kami menasehatkan bahwa sebaiknya seseorang tidak melakukan kredit. Jika itu dibutuhkan. Ambillah dengan harga yang paling kecil yang mungkin  untuk dilunasi. Kurangilah pula untuk berhutang. “  ( Syarh Riyadhus Sholihin 2: 526).

 Kalau saja kita mati masih dalam keadaan membawa hutang, maka kebaikannya sebagai penggantinya.

Dari Ibnu ‘ Umar , Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam Bersabda, yang artinya:

 “ Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya ( di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham. “   ( HR. Ibnu Majah no 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih ). Ibnu Majah juga membawakan hadits ini pada Bab “  Peringatan keras mengenai hutang. “

 Begitulah keadaan orang yang sudah meninggal  jika masih mempunyai hutang dan belum dilunasi.  Dan untuk membayar hutangnya akan diambil dari kebaikan yang ia miliki. Begitulah yang akan terjadi dihari kiamat nanti  sebab dihari itu tidak akan ada yang namanya dinar dan dirham  untuk melunasi hutang .

orang yang masih berhutang jika ia meninggal urusannya masih  masih menggantung

dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, yang artinya

 “ jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya. “  ( HR. Tirmidzi no . 1078. Syaikh  al albani mengatakan bahwa hadits ini  Shahih  sebagaimana  Shahih wa Dhaif sunan At Tirmidzi  )

Al ‘ Iroqiy mengatakan ,  “ Urusannya masih menggantung , tidak ada hukuman baginya yaitu tidak bisa ditentukan apakah dia selamat ataukah binasa, sampai dilihat bahwa hutangnya tersebut lunas atau tidak. “ ( Tuhfatul Ahwadzi, 3/142)

 Seseorang yang meninggal dan masih memiliki hutang enggan untuk di sholati

Dari Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu ‘ anhu, beliau berkata:

Kami duduk di sisi nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam. lalu didatangkanlah satu jenazah. Lalu beliau bertanya, “ Apakah dia memiliki hutang ?” Mereka ( para sahabat) menjawab, “ Tidak ada. “ Lalu beliau mengatakan , “ Apakah dia  meninggalkan sesuatu ?” . Lantas mereka (para sahabat) menjawab , “ tidak ada”  Lalu beliau shallallahu ‘ alaihi wa sallam menyolati jenazah tersebut.

Kemudiaan  didatangkanlah jenazah lainnya. Lalu para sahabat berkata, “ wahai rasulullah shalatkanlah dia !” Lalu beliau bertanya , “ apakah dia memiliki hutang ?” mereka (para sahabat ) menjawab, “ Iya.” Lalu beliau mengatakan , “ Apakah dia meninggalkan sesuatu ? “ Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “ Ada , sebanyak 3 dinar. “ lalu beliau  mensholati jenazah tersebut.

Kemudian didatangkan lagi jenazah ketiga, lalu para sahabat berkata , “ shalatkanlah dia!” Beliau bertanya “ apakah dia meninggalkan sesuatu? “ mereka (para sahabat) menjawab, “ tidak ada.” Lalu beliau  bertanya, “ apakah dia memiliki hutang ?” mereka menjawab , “ ada tiga dinar,” Beliau berkata, “ shalatkanlah  sahabat kalian ini.” Lantas abu Qatadah berkata. “ Wahai Rasulullah , shalatkanlah dia. Biar aku saja yang menanggung hutangnya.” Kemudian belia menyolatinya.” ( HR. bukhari no 2289)

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *