Falsafah Ibadah Dalam Islam

Makhluk yang ada di dunia inii yang di ciptakan  secara tidak langsung akan selalu di pelihara (rububiyyatullah), yang pemiliknya dan juga di pegang secara mutlak oleh  Allah Subhanahu wata’ala ( Mulkiyyatullah).  Tentang penciptaa dan pemeliharaan makhluk  yang ada di dunia dan juga seisinya yang lain  , allah subhanahu wata’ ala  berfirman:

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang Sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah/2: 21)

Di ayat lain allah berfirman:

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhan (Pencipta & Pemelihara)-mu, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiyâ’/21: 92)

Allah Subhanahu wata’ ala  yang menciptakan , pastinya dia – lah yang paling mengetahui apa yang terbaik dan apa yang terburuk bagi ciptaanya ,  tentang pemilikan dan penguasaan Allah terhadap sesuatu, Allah Berfiman

“Kepunyaan Allahlah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan. “ (QS. Ali Imrân/3: 109)

Allah sebagai pemiliki , maka  segala yang terjadidi dunia ini suka dan tidak suka  semuanya   akan dikembalikan dan berserah diri kepada Allah  Subhanahu wata’ ala  

““…kepada-Nya-lah berserah diri siapa saja yang ada di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. Ali ‘Imrân/3: 83)

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hûd/11: 123)

Kalimat pasif  memeang  dipilih Allah Subhanahu wata’ ala ; Di kembalikan sebab memamng seluruh persoalan tanpa terkecuali, dipastikan  kembali  atau  di paksa supaya kembali kepada allah mereka dikembalikan. Karena allah asalah sang pemilik dan sang penguasa ( al-malik).  Dengan dasar ini maka tidak ada pilihan lain  bagi manusia terkecuali berserah diri  secara mutlak kepada Allah Subhanahu wata’ ala.

Dengan dasar diatas , manusia tidak diperkenankan  untuk memisahkan aktivitas hidup , setengah untuk allah dan setengahnya lagi untuk yang lainnya. Semuanya diharuskan untuk selalu total dipersembahkan  hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala

“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Pemelihara alam semesta.“ (QS. Al-An‘âm/6: 162)

 Selain itu, Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna (QS. Al-Tîn/95: 4)

 dan paling dimuliakan Allah dengan memberinya berbagai kelebihan dibanding makhluk yang lain (QS. Al-Isra’/17: 70).

 Allah  Subhanahu wata’ ala memberikan fasilitas  yang lebih  berupa akal dan nurani , yang semua itu  diberikan pastinya memiliki tujuan . sebab Allah Subhanahu wata’ ala   memberi pertanyaan yang reflektif  kepada ciptaanya yaitu manusia

“Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian hanya sia-sia dan mengira bahwa kalian tidak kembali kepada Kami?!” (QS. Al-Mu’minûn/23: 115)

Dengan Sengaja Allah merangkai dua pertanyaan dalam satu ayat tentang tujuan penciptaan manusia secara sempurna oleh Allah Subhanahu wata’ ala, dan tentang kemana tempat kembali terakhir kita kalau bukan kepada Allah Subhanahu wata’ ala, dengan maksud mengajak kita untuk berpikir dan merenung tentang tujuan penciptaan manusia. Tentu ada tujuan Allah untuk semua itu, Allah menciptakan manusia lengkap dengan berbagai kelebihan dimaksudkan karena Allah akan memberikan tugas mulia kepada manusia yakni menjadi khalifah Allah di bumi (QS. Al-Baqarah/2: 30)  yang memiliki tugas memakmurkan bumi ini (QS. Hûd/11: 61).

Oleh karena itu Untuk menjalankan  tugas kekhalifahan dengan baik maka harus didasarkan pada semangat pengabdian (ibadah) yang murni hanya karena Allah Subhanahu wa ta’ala, semata. Untuk itulah Allah Subhanahu wa ta’ala, berfirman:

“Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat/51: 56; Lihat juga QS. Al-Bayyinah/98: 5).

Dengan melaksanakan ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ ala,  maka manusia akan bisa menjadi manusia yang bertaqwa. Allah Berfirman:

“Hai manusia, sembahlah (beribadahlah) kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah/2: 21)

Demikian penjelasan singkat tentang falsafah Ibadah dalam Islam  semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *