Kapan Awal dan Akhir Penyembelihan Kurban?

Kapan Awal dan Akhir Penyembelihan Kurban?

Kapan Awal dan Akhir Penyembelihan Kurban?  

AWAL WAKTU PENYEMBELIHAN QURBAN

Untuk masalah waktu penyembelihan Qurban  telah dijelaskan di dalam hadist sebagai berikut:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih qurban sebelum shalat (Idul Adha), maka ia berarti menyembelih untuk dirinya sendiri. Barangsiapa yang menyembelih setelah shalat (Idul Adha), maka ia telah menyempurnakan manasiknya dan ia telah melakukan sunnah kaum muslimin.” (HR. Bukhari no. 5546.)

Dari Jundab, ia menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau berkhutbah dan bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat ‘ied, hendaklah ia mengulanginya. Dan yang belum menyembelih, hendaklah ia menyembelih dengan menyebut ‘bismillah’.” (HR. Bukhari no. 7400 dan Muslim no. 1960.)

Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim (13: 110) berkata, “Adapun waktu berqurban, hendaklah kurban itu disembelih setelah shalat bersama imam. Demikian qurban tersebut dikatakan sah. Sebagaimana kata Ibnul Mundzir, “Para ulama sepakat bahwa udhiyah (qurban) tidaklah boleh disembelih sebelum terbit fajar pada hari Idul Adha.” Sedangkan waktu setelah itu (setelah terbit fajar), para ulama berselisih pendapat. Imam Syafi’i, Daud (Azh Zhahiri), Ibnul Mundzir dan selain mereka berpendapat bahwa waktu penyembelihan qurban itu masuk jika matahari telah terbit dan lewat sekitar shalat ‘ied dan dua khutbah dilaksanakan. Jika kurban disembelih setelah waktu itu, sahkah qurbannya, baik imam melaksanakan shalat ‘ied ataukah tidak, baik imam melaksanakan shalat Dhuha ataukah tidak, begitu pula baik yang melaksanakan qurban adalah penduduk negeri atau kampung atau bawadi atau musafir, juga baik imam telah menyembelih qurbannya ataukah belum. …”

AKHIR WAKTU PENYEMBELIHAN QURBAN

Dari keterangan Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhohullah, “Adapun waktu akhir dari penyembelihan qurban, maka tidak ada hadits yang shahih dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal itu. Maka dari itu  para ulama berselisih pendapat mengenai akhir waktunya. Ada 4 pendapat dalam masalah ini: ketiga pendapat para ulama  waktu penyembelihan qurban pada hari idul adha dan 2 hari setelahnya dan pendalilan nya dhoif. Tetapi satu pendapat yang jumhur para ulama  sepakat yaitu waktu penyembelihan qurban hanya pada hari idul adha saja (10 Dzulhijjah) . tidak ada khilaf untuk waktu penyembelihannya pada 10 dzulhijjah setelah shalat ied menurut  pendapat jumhur para ulama.

Seorang muslim yang berhati-hati untuk agamanya adalah yang melaksanakan penyembelihan qurban pada hari idul adha (10 Dzulhijjah) sebagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam  lakukan dan hal ini lebih selamat dari perselisihan para ulama yang ada. Kalau sulit melakukan pada waktu tersebut , maka boleh melakukan pada 11 dan 12 Dzulhijjah sebagaimana  pendapat jumhur ulama.Wallahualam       ( Lihat Fiqhul Udhiyah, hal. 119.)

BOLEHNYA MENYEMBELIH QURBAN DI SIANG ATAU MALAM HARI

Untuk penyembelihan qurban diperbolehkan di siang hari atau malam hari. Tetapi disunnahkan penyembelihannya di siang hari supaya lebih baik dalam penyembelihan dan orang-orang miskin bisa hadir. (Lihat Fiqhul Udhiyah, hal. 107.)

Imam Nawawi berkata, “Para ulama berselisih pendapat mengenai bolehnya berkurban di malam hari dari malam-malam kurban (hari Idul Adha dan hari tasyrik). Imam Syafi’i sendiri membolehkan namun menilainya makruh. Demikian pula dikatakan oleh Abu Hanifah, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan jumhur. Imam Malik pun berpendapat demikian dalam pendapat yang masyhur dari beliau dan para pengikutnya. Sedangkan salah satu pendapat dari Imam Ahmad menyatakan tidak sahnya penyembelihan di malam hari bahkan dianggap seperti daging biasa (bukan qurban).”  (Syarh Muslim, 13: 111.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *