Kapan Waktu Penyembelihan Kurban?

Kapan Waktu Penyembelihan Kurban?

Kapan Waktu Penyembelihan Kurban?  Untuk waktu penyembelihan kurban  disini dibahas  oleh Ibnu Hajar  di dalam Bulughul Maram Pada hadits  no 1358.

Artinya: Dari Jundub bin Sufyan radhiyallahu ‘anhu, aku pernah menyaksikan qurban bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau selesai menunaikan shalat (Idul Adha) bersama para jama’ah, lalu beliau melihat pada ghonam (kambing) yang telah disembelih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ” Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat ‘ied, hendaklah ia mengulanginya. Dan yang belum menyembelih, hendaklah ia menyembelih dengan menyebut ‘bismillah’.” (Muttafaqun ‘alaih).

(HR. Bukhari no. 5562 dan Muslim no. 1960)

Hadits lain juga  menerangkan:

Artinya : Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih qurban sebelum shalat (Idul Adha), maka ia berarti menyembelih untuk dirinya sendiri. Barangsiapa yang menyembelih setelah shalat (Idul Adha), maka ia telah menyempurnakan manasiknya dan ia telah melakukan sunnah kaum muslimin.  “  ( HR. Bukhari no. 5546. )

Dikatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim (13: 110), “Adapun waktu berqurban, hendaklah kurban itu disembelih setelah shalat bersama imam. Demikian qurban tersebut dikatakan sah. Sebagaimana kata Ibnul Mundzir, “Para ulama sepakat bahwa udhiyah (qurban) tidaklah boleh disembelih sebelum terbit fajar pada hari Idul Adha.” Sedangkan waktu setelah itu (setelah terbit fajar), para ulama berselisih pendapat. Imam Syafi’i, Daud (Azh Zhahiri), Ibnul Mundzir dan selain mereka berpendapat bahwa waktu penyembelihan qurban itu masuk jika matahari telah terbit dan lewat sekitar shalat ‘ied dan dua khutbah dilaksanakan. Jika kurban disembelih setelah waktu itu, sah  kurbannya, baik imam melaksanakan shalat ‘ied ataukah tidak, baik imam melaksanakan shalat Dhuha ataukah tidak, begitu pula baik yang melaksanakan qurban adalah penduduk negeri atau kampung atau bawadi atau musafir, juga baik imam telah menyembelih qurbannya ataukah belum. …”

Terdapat hadist yang menjelaskan:

Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan barangsiapa yang berqurban sebelum beliau berqurban, maka hendaklah ia mengulangi qurbannya. Janganlah berqurban sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban.”  (HR. Muslim no. 1964.)

 Hadits diatas  yang menjadi alasan bagi Imam Malik bahwa tidak sah qurban kecuali setelah imam menyembelih qurbannya. Pendapat imam malik tersebut dibantah dengan Imam Nawawi dengan perkataan, “Jumhur (mayoritas) ulama dalam  memahami hadits tersebut bahwa maksudnya adalah larangan keras bagi orang yang terburu-buru menyembelih qurban sebelum waktunya. Karena dalam hadits lainnya dikaitkan hal tersebut dengan shalat. Yaitu siapa yang menyembelih setelah shalat ‘ied, maka sah. Siapa yang menyembelih sebelumnya, maka tidaklah sah. (Syarh Muslim, 13: 118.)

BATAS AKHIR WAKTU PENYEMBELIHAN QURBAN

Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhohullah, Menerangkan  “ Adapun waktu akhir  dari penyembelihan qurban , maka tidak ada hadits yang shahih  dari rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengenai hal ini. Maka dari itu para ulama memiliki selisih pendapat dalam menentukan batas akhir waktunya. Adapun empat pendapat  di dalam memutuskan masalah ini: 

Pendapat pertama : Waktu penyembelihan qurban hanya pada hari Idul Adha saja (10 Dzulhijjah). Pendapat ini jelas alasannya. Dan tidak ada khilaf jika waktu penyembelihannya pada 10 Dzulhijjah  setelah shalat ‘ied menurut pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Sedangkan menurut pendapat lainnya, penyembelihan pada hari tersebut dilakukan setelah imam menyembelih qurban.

Pendapat Kedua : Waktu penyembelihannya pada hari Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan 2 hari setelahnya (11 dan 12 Dzulhijjah). Tidak ada dalil shahih yang marfu’ (sampai pada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-) selain atsar dari Ibnu ‘Umar yang mauquf (hanya perkataan Ibnu ‘Umar) yang menyatakan bolehnya sampai dua hari setelah Idul Adha. Ada atsar dari beliau yang menjelaskan tafsiran ‘ayyam ma’lumaat’ (hari tertentu sebagaimana disebut dalam surat Al Hajj ayat 28) dan termasuk didalamnya hari ke-11 dan 12 Dzulhijjah. Akan tetapi atsar ini dho’if.

Pendapat Ketiga: Waktu penyembelihan qurban pada hari Idul Adha dan 3 hari tasyriq setelahnya (11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Dasar pendapat ini adalah hadits dho’if dan mereka qiyaskan dengan hadyu.

Pendapat keempat : Waktu penyembelihan qurban adalah sampai akhir Dzulhijjah. Inilah pendapat Ibnu Hazm, namun dasar yang digunakan adalah hadits dho’if. Ada pendapat demikian pula mengenai hadyu, namun pendalilannya dho’if.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *