Kebencian Menurut Pandangan Islam

Seorang muslim tidak diperbolehkan membenci orang lain, terutama dengan yang seiman.  Dan kita saja tidak memiliki hak untuk berprasangka  buruk terhadap orang lain. Kalau saja orang tersebut mempunyai sesuatu yang tidak kita sukai , maka kita diharuskan untuk memberikan maaf dan tidak menampakkan rasa kesal, marah dan kebencian.  Allah Berfirman  di dalam Ayat  Al quran  yang artinya:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”  ( QS.  Ali ‘Imran ayat 33-34,)

Sayyid muhammad al-Maliki menyebutkan di dalam Kitab Madza Fi Sya’ban,  dosa yang bisa menghalangi ampunan Allah . diantaranya adalah kebencian terhadap orang lain. Seperti yang disabdakan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam

 Artinya: “Pintu–pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, lalu setiap hamba yang tidak menyekutukan sesuatu apa pun dengan Allah mendapat ampunan, kecuali lelaki yang antaranya dan saudaranya ada kebencian. Dia lalu berfirman: “Tangguhkanlah kedua orang ini sampai mereka berdamai”

Kebencian itu hampir sama dengan hasad. Hasad ada dua pengertian yaitu

Pengertian  dari jumhur ulama yang disebutkan oleh  syaikh Musthafa al-Adawi.

“Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain.” (At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 720)

Dan pengertian hasad dari yang dikatakan oleh Ibnu taimiyah rahimahullah

“Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:111).

Berikut Cara Mengatasi Agar Kita tidak benci pada nikmat orang atau hasad

  1.     Berilmu dan beriman, yaitu dengan mengetahui bahwa hasad itu akan berdampak jelek pada diri sendiri di dunia dan akhirat.
  2. Mengingat akibat hasad yang berdampak jelek di dunia maupun di akhirat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersabda : Artinya : “Barangsiapa yang berbuat zalim pada saudaranya, maka hendaknya dia meminta kehalalan padanya, karena kelak di akhirat tiada lagi dinar maupun dirham sebelum kebaikannya diambil untuk saudaranya (yang dizalimi). Bila tidak memiliki kebaikan maka kejelekan saudaranya (yang dizalimi) akan diberikan padanya.” (HR. Bukhari, no. 6534)
  3. Selalu bersyukur jika mendapatkan sedikit rezeki. Dari An- Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Artinya: “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4: 278. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 667)
  4.     Selalu memandang orang yang dibawahnya berada dalam masalah bahaya dunia. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian melihat orang lain diberi kelebihan harta dan fisik [atau kenikmatan dunia lainnya], maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari, no. 6490; Muslim, no. 2963)
  5.     Perbanyak mendoakan kebaikan pada orang yang mendapatkan nikmat karena jika kita mendoakannya , kita akan dapat yang semisalnya. Dari Ummu Darda’ radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya: “Doa seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang bertugas mengaminkan doanya kepada saudaranya). Ketika dia berdoa kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata: Aamiin, engkau akan mendapatkan yang semisal dengannya.” (HR. Muslim, no. 2733)

6.  Melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan niat hasad. Di antara kiat untuk menghilangkan hasad sebagaimana disarankan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi adalah orang yang hasad melakukan hal yang bertolak belakang dengan niatan hasadnya. Hal ini tentu saja akan menghilangkan hasad dari dirinya. Lihat Fiqh Al-Hasad, hlm. 52.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *