Menelantarkan Anak Menurut Pandangan Al-Quran

Menelantarkan Anak Menurut Pandangan Al-Quran, Istilah untung rugi dalam sistem perdagangan mungkin sudah bukanlah hal yang baru lagi, namun bagaimana dengan istilah untung rugi dalam kehidupan beragama.? Untung rugi dalam kehidupan adalah dimana ketika orang orang mendapatkan keberkahan, kebahagiaan dan amal kebaikan selama di dunia merupakan keuntungan yang kelak akan mereka dapatkan, sementara orang orang yang merugi adalah orang orang yang melakukan berbagai macam hal yang tidak dikehendaki oleh Allah SWT dan termasuk dengan menelantarkan anak anak mereka seperti apa yang dijelaskan di dalam surah Al-An’am [6]: 140,

قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ قَتَلُوا أَوْلَادَهُمْ سَفَهًا بِغَيْرِ عِلْمٍ وَحَرَّمُوا مَا رَزَقَهُمُ اللَّهُ افْتِرَاءً عَلَى اللَّهِ قَدْ ضَلُّوا وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezeki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk”

 

Awalnya, ayat ini ditujukan sebagai kecaman terhadap masyarakat Arab yang biasa membunuh anak perempuannya sendiri. Di masa itu, masa Jahiliyah, anak perempuan adalah aib yang harus dibuang. Tak hanya dibunuh, mereka dikubur hidup-hidup. Al-Baghawi dalam tafsirnya menjelaskan,

نَزَلَتْ فِي رَبِيعَةَ ومضر وبعض من الْعَرَبِ مِنْ غَيْرِهِمْ، كَانُوا يَدْفِنُونَ الْبَنَاتِ أَحْيَاءً مَخَافَةَ السَّبْيِ وَالْفَقْرِ، وَكَانَ بَنُو كِنَانَةَ لَا يَفْعَلُونَ ذَلِكَ

“Ayat ini diturunkan untuk Rabi’ah, Mudhar, dan kalangan bangsa Arab yang lain. mereka mengubur hidup – hidup putri mereka karena takut dicerca dan takut miskin. Hanya Bani Kinanah yang tidak melakukannya”

Selain itu, alasan lainnya adalah takut akan jatuh dalam kemiskinan. Islam kemudian mengecam budaya itu dan menegaskan bahwa memiliki keturunan adalah rezeki yang patutnya kita syukuri, bukan malah disia-siakan. Banyak orang yang mendambakan kehadiran seorang anak, namun belum juga Allah takdirkan memiliki.

Di era modern seperti saat ini, hal tersebut masih saja sering terjadi yang meskipun tidak dalam bentuk yang sama. Terdapat dua jenis jenis pembunuhan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya di zaman sekarang ini.

  • Orang Tua yang Membuang Anaknya Di Depan Rumah Orang dan Panti Asuhan

Orang orang yang membuang anaknya di depan pintu rumah orang kaya dan di depan panti asuhan masih saja banyak terjadi dan sebagian besar dari pelakunya adalah remaja yang dimana melahirkan seorang bayi dari hasil perzinahan. Bayi dari hasil perzinahan kerap dianggap sebagai aib yang harus disingkirkan yang padahal dosa yang telah mereka lakukan tidak ada hubungannya dengan kelahiran dan keberlangsungan hidup si bayi yang justru dengan apa yang mereka lakukan tersebut akan menambah dosa.

  • Orang Tua yang Membunuh Masa Depan Anaknya

Saat ini banyak para orang tua yang membunuh masa depan anaknya secara perlahan dengan membiarkan anak anak mereka menjadi generasi yang lemah. Tidak hanya dalam aspek agama melainkan juga dalam aspek kehidupan.

Perilaku jenis kedua tersebut dikecam dalam Al-Quran, dalam surah An-Nisa’ [4]: 9,

وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

As-Samarqandi dalam tafsirnya Bahr al-‘Ulum menjelaskan bahwa ada empat pendapat soal ayat ini, diantaranya beliau mengutip pendapat Abi Basyar Ad-Dailami:

أن من خشي على ذريته من بعده , وأحب أن يكف الله عنهم الأذى بعد موته , فليتقوا الله وليقولا قولاً سديداً

Bahwa orang yang mengkhawatirkan generasi yang lahir setelahnya, dan ingin Allah mencukupkan penderitaan bagi mereka setelah kepergiannya, hendaklah bertakwa dan mengatakan hal – hal yang baik

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *