Orang Tua Bercerai, Anak Sebaiknya Ikut Siapa? Menurut Islam

Orang Tua Bercerai, Anak Sebaiknya Ikut Siapa? Menurut Islam

Islam selalu memberikan jalan keluar permasalahan yang ada di dunia ini. Seperti halnya  seorang  pasangan suami istri  sudah tidak ada lagi kecocokan .  untuk perceraian  ada di tangan suami atau gugat cerai(khulu’) yang merupakan jalan keluar bagi istri yang tidak memungkinkan  lagi  untuk  tinggal  bersama suami. Dan untuk perceraian  semuanya harus dilakukan dengan aturan yang telah ditetapkan syariat.

Maka dari itu  seorang suami tidak dianjurkan untuk melakukan perceraian  disaat sedang lagi ada masalah dengan istrinya. Terkecuali setelah adanya usaha mempertahankan keutuhan keluarga  melalui jalur islah (usaha Damai) dari perwakilan dari dua belah pihak dan usaha lainnya.

Allah ta’ ala menegaskan  di dalam firmannya yang artinya:

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya (membangkang), Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar (34). Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu “ . (QS. An-Nisa: 34 – 35)

 Hukum asal wanita jika ingin menggugat cerai adalah haram.  Di dalam hadist dijelaskan tentang permasalahan ini. Dari Tsauban radhiyallahu ‘ anhu, Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam  Bersabda yang artinya:

“ Wanita mana saja yang meminta kepada suaminya untuk dicerai tanpa kondisi mendesak maka haram baginya bau surga” (HR Abu Dawud no 2226, At-Turmudzi 1187 dan dishahihkan al-Albani).

 Hadits diatas menjelaskan ancaman keras bagi seorang istri(wanita) yang meminta perceraian tanpa ada sebab yang diizinkan oleh syariat.

Jika akhirnya keputusan bulat untuk bercerai dan itu terealisasi, maka yang dimana bisa berefek kepada anak-anak. Dan untuk pengasuhan anak sebenarnya kedua orang tua yang sudah bercerai  tetap masih memiliki tanggung jawab untuk merawat anak-anak. Dan disarankan untuk memutuskan pengasuhan anak bisa dibicarakan secara kekeluargaan. Tetapi jika masih adanya perselisihan hak asuh anak , jalan terbaik menempuh jalur hukum untuk memutuskan anak ikut dengan siapa.

Dan di indonesia untuk yang beragama muslim atau non muslim , anak yang masih dibawah umur  hak asuh anak jatuh kepada ibunya.

Terkhusus untuk yang beragama islam , kompilasi Hukum islam pasal 105 telah mempunyai aturan dalam 3 ketentuan  sebagai berikut:

  1.   Dalam hal terjadinya perceraian, pemeliharaan anak belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya.
  2.   Bila anak sudah berusia di atas 12 tahun, maka keputusan akan diserahkan kepada anak tersebut untuk memilih antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak asuhnya.
  3.   Pihak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan anak adalah ayahnya.

Perceraian memang diperbolehkan didalam islam tetapi perceraian adalah suatu perbuatan yang dibenci.

Dari Ibnu ‘ Umar radhiyallahu ‘anhuma , dari Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam, beliau bersabda. Yang artinya :

 “Perbuatan halal yang dibenci oleh Allah Ta’ala adalah talak (cerai).” (HR. Abu Daud, no. 2178; Ibnu Majah, no. 2018. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

 Hadist diatas  mengatakan kalau perceraian  itu tidak disukai oleh allah ta’ ala  karena mafsadat dan bahayanya  yang begitu banyak pada suami- Istri dan Anak-anak. Maka talak(cerai)  lebih baik dijauhi sebisa mungkin

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *