Pandemi COVID-19, Masalah Gizi di Indonesia Kian Mengkhawatirkan

Pandemi COVID-19, Masalah Gizi di Indonesia Kian Mengkhawatirkan

Pandemi COVID-19, Masalah Gizi di Indonesia Kian Mengkhawatirkan

Masalah gizi di Indonesia belum dapat dikatakan sudah dapat dituntaskan, apalagi ditambah dengan mewabahnya virus covid 19 membuat banyak masyarakat yang memiliki kelas ekonomi menengah ke bawah mengalami kesulitan dengan mata pencaharian mereka, sehingga menyebabkan mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi melalui makanan yang dikonsumsi setiap harinya.

Banyak anak anak yang sedang berada di usia kembang, mereka tidak dapat memperoleh asupan gizi yang seimbang, yang dapat berdampak pada pertumbuhan mereka kelak.

Dikutip dari viva.co.id Menurut Global Nutrition Report, pada 2018, Indonesia masuk daftar 17 negara yang memiliki 3 masalah gizi sekaligus. Masalah-masalah gizi tersebut antara lain, stunting, wasting atau kurus dan obesitas. 

Presiden Joko Widodo, telah menargetkan prevalensi stunting akan turun hingga 14 persen pada 2024. Namun hingga sampai saat ini, persentase penurunan stunting tersebut baru mencapai 2,7 persen. Kondisi ini juga diperparah dengan pandemi COVID-19 yang tak kunjung usai, yang membuat permasalahan gizi di Indonesia kian terasa berat. 

Perwakilan Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mengatakan, sebelum mewabahnya covid 19 sudah ada sekitar 2 juta anak di Indonesia mengalami masalah gizi buruk dan lebih dari 7 juta anak di bawah umur lima tahun mengalami stunting.

UNICEF telah memperkirakan bahwa jumlah anak yang mengalami kekurangan gizi akut di bawah usia lima tahun dapat meningkat hingga 15 persen secara global pada tahun ini apabila tidak menemukan tindakan dalam penanganannya.

Menurut kata Anna dalam acara bertajuk Upaya Penguatan Edukasi Perilaku Gizi Seimbang untuk Anak pada Masa Adaptasi Kebiasan Baru, Jumat (28/8/2020). “Tapi memang, ini akan mengalami peningkatan secara global jika tidak adanya sebuah tindakan,”

Hal tersebut dapat disebabkan oleh balita dan ibu hamil di tengah pendemi seperti saat ini mengalami keterbatasan pangan dalam keluarga.

Kasus malnutrisi sudah menjadi hal yang sering dialami oleh sejumlah kalangan dari balita dan ibu hamil di sejumlah presentasi masyarakat Indonesia meski tidak ada pandemi. “Ditambah adanya pandemi ini, daya beli (asupan bergizi) juga menurun,” ujarnya.

Maka dari itu, Anna mengingatkan agar semua pihak, harus benar benar memperhatikan kondisi buruk yang akan terjadi jika ada banyak anak Indonesia mengalami malnutrisi akibat kekurangan asupan gizi di tengah pandemi virus corona ini. 

Bisa jadi pandemic telah berakhir, namun masalah malnutrisi pada anak ini tidak dimitigasi sejak dini, maka dapat menimbulkan anak yang mengalami masalah gizi buruk, stunting, defisiensi zat gizi mikro bertambah meningkat lagi kasusnya. Sehingga, membuat target Indonesia Emas pada tahun 2045 dan anak-anak terbebas dari stunting bisa ikut terhambat.

Pasalnya, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menemukan bahwa tingkat stunting di Indonesia mencapai 30,81 persen. Presentasi ini disebutkan sudah mengalami penurunan dibandingkan kasus stunting pada tahun 2013 lalu yang mencapai 37,2 persen. Hanya saja, angka ini masih berada jauh di bawah standar kasus stunting yang bisa ditoleransi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu paling banyak setidaknya hanya 20 persen saja. Akan lebih baik jika kasus kejadian stunting bisa mencapai di bawah 20 persen. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *