Peranan Akhlak Dalam Kehidupan Seorang Muslim

Peranan Akhlak Dalam Kehidupan Seorang Muslim

Peranan Akhlak dalam Kehidupan Seorang Muslim Para ulama mendefinisikan Akhlak adalah karakter batin yang baik yang sudah menjadi tabiat seseorang. Begitu banyak dalil yang dimana telah disebutkan keutamaan orang yang memiliki akhlak yang mulia. Yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam Bersabda:

Artinya: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” (HR. Abu Daud no. 4682, At Tirmidzi no. 1162, 2612, Ad Darimi no. 2792, Ahmad (2/527), dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shahihah no. 284.)

Nabi Shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:

Artinya: “Tidak ada sesuatu amalan yang jika diletakkan dalam timbangan lebih berat dari akhlak yang mulia. Sesungguhnya orang yang berakhlak mulia bisa mencapai derajat orang yang rajin puasa dan rajin shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2134, dari Abu Darda’. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih Al Jaami’ no. 5726.)

Nabi Kita diutus Untuk Menyempurnakan Akhlak manusia. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam  Bersabda:

Artinya: “ Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad (2/381), dari Abu Hurairah. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

Tolak Ukur dalam berakhlak  di dalam al quran telah ditetapkan kalau akhlak tidak bisa lepas dari aqidah dan syariah,  semua itu merupakan satu kesatuan yang akan selalu menyatu dan tidak bisa terpisahkan.  Allah ta’ala berfirman :

Artinya: “ Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” ( QS. Al-Baqarah ayat 177).

Akhlak di bali menjadi dua macam yaitu:

  1.   Akhlak Mahmudah (Akhlak yang terpuji).  Hasan rahimahullah mengatakan budi pekerti yang baik adalah selalu memperlihatkan  wajah yang berseri-seri, dalam memberikan bantuan sebagai tanda kedermawanan dan selalu menahan diri dari perbuatan yang menyakiti. Selanjutnya Hasan menambahkan budi pekerti yang baik adalah membuat kerelaan seluruh makhluk, baik dalam kesukaan (karena murah rezeki) atau dalam kedukaan (keadaan kekurangan). Contoh akhlak terpuji ada dalam alquran , Allah berfirman:

Artinya: “Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”   (QS. Al-Imran 3:159)

  1.   Akhlak Madzmumah (Akhlak yang tercela). Dijelaskan di dalam alquran, Allah Subhanahu wata’ala Berfirman:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” ( QS. Al hujurat 49:12)

Contoh Akhlak tercela  terdapat di dalam hadist Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam Bersabda: “Ada empat perkara, barangsiapa yang memiliki semuanya itu dalam dirinya, maka ia adalah seorang munafik, sedang barangsiapa yang memiliki salah satu dari sifat-sifat itu di dalam dirinya, maka ia memiliki salah satu sifat kemunafikan, sehingga ia meninggalkan sifat tadi. Empat perkara itu adalah jika berbicara dusta, jika berjanji menyalahi, apabila menjanjikan sesuatu cedera, dan jika bermusuhan berlaku curang.” ( HR bukhari dan Muslim).

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *