Raih Keberkahan di bulan Pertama Islam Bulan Muharram

Raih Keberkahan di bulan Pertama Islam Bulan Muharram

Raih Keberkahan di bulan Pertama Islam Bulan Muharram. Salah satu bulan yang mulia adalah bulan muharram yang dimana sebentar lagi akan menghampiri kita.

Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Setahun terdiri dari dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga berurutan, yaitu: Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijjah dan Al-Muharram, serta Rajab Mudhar yang terletak antara Jumada dan Sya’ban. (HR Al-Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679/4383.)

Pada bulan tersebut pada sebagian kalangan dengan bulan suro dan diidentikkan dengan hal-hal yang seram dan sial  sehingga hajatan-hajatan tidak diperbolehkan untuk melaksanakan pada bulan tersebut.  Padahal perlu kita ketahui kalau pada bulan muharram ini kita mendapatkan kesempatana untuk melakukan amalan sholih  dan meraih kebrkahan pada bulan ini. Amalan shalih yang paling utama adalah berpuasa , dan yang paling utama lagi kita melaksanakan puasa di hari asyura (10 Muharram).

ANJURAN PUASA MUHARRAM

Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam mendorong kita untuk melakukan puasa di bulan muharram sebagaimana sabdanya,

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah).

Imam Nawawi –rahimahullah– menjelaskan, “Hadits ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 55)

Lalu mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diketahui banyak berpuasa di bulan Sya’ban bukan malah bulan Muharram? Ada dua jawaban yang dikemukakan oleh Imam Nawawi.

1- Mungkin saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru mengetahui keutamaan banyak berpuasa di bulan Muharram di akhir hayat hidup beliau.

2- Boleh jadi pula beliau memiliki udzur ketika berada di bulan Muharram (seperti bersafar atau sakit) sehingga tidak sempat menunaikan banyak puasa pada bulan Muharram. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 55)

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Puasa yang paling utama di antara bulan-bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, Rajab -pen) adalah puasa di bulan Muharram (syahrullah).” (Lathoif Al Ma’arif, hal. 67)

Di antara sahabat yang gemar melakukan puasa pada bulan-bulan haram (termasuk bulan haram adalah Muharram) yaitu ‘Umar, Aisyah dan Abu Thalhah. Bahkan Ibnu ‘Umar dan Al Hasan Al Bashri gemar melakukan puasa pada setiap bulan haram (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 71). Bulan haram adalah bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

BANYAK BERPUASA ,TIDAK MESTI SEBULAN PENUH

Dari penjelasan diatsa  seorang muslim dianjurkan untuk  memperbanyak puasa  di bulan Muharram. Kalau kurang mampu, lakukanlah puasa sesuai dengan kemampuannya. Tetapi yang lebih tepat adalah tidak berpuasa Muharram sebulan  penuh ‘aisyah Radhiyallahu ‘anhu berkata.

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan. Aku tidak pernah melihat beliau banyak puasa dalam sebulan selain pada bulan Sya’ban.” (HR. Muslim no. 1156)

YANG LEBIH AFDHOL, PUASA ASYURA

Dari sekian hari di bulan Muharram, yang lebih afdhol adalah puasa hari ‘Asyura, yaitu pada 10 Muharram. Abu Qatadah Al Anshari berkata,

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *