Status Anak Diluar Nikah Menurut 4 Imam Madzhab

Status Anak Diluar Nikah Menurut 4 Imam Madzhab

Status anak diluar nikah menurut 4 imam madzhab.Allah ta’ala berfirman yang artinya “ perempuan pezina dan laki-laki pezina, cambuklah masing-masing dari keduanya seratus kali pukulan, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, Jika kamu beriman kepada allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. “ (QS An-nur;2)

Al-Qurthubi mengatakan , “ Kata “zaniyah “ ( wanita pezina) lebih didahulukan dalam ayat diatas karena aib pezina itu lebih melekat pada diri wanita. Mengingat mereka seharusnya lebih tertutup dan berusaha menjaga diri, maka para wanita pezina disebutkan lebih awal sebagai bentuk peringatan keras dan perhatian besar bagi mereka. ( Al-Jami’ li Ahkam-Al-Quran,  12:160)

Adapun pendapat dari imam madzhab  tentang status anak diluar nikah berikut penjelasannya.

Status anak di luar nikah menurut Mazhab Hanafi bahwa anak di luar nikah adalah anak yang lahir kurang dari enam bulan setelah adanya akad nikah. Adapun nasab status anak di luar nikah adalah sama dengan anak yang lahir di dalam perkawinan yang sah, karena mazhab Hanafi menganggap adanya nasab secara hakiki, maka nasab hakiki kepada bapak biologisnya adalah tsabit, sehingga anak tersebut diharamkan untuk dinikahi bapak biologisnya.

Dari Mazhab Syafi’I bahwa anak di luar nikah adalah anak yang lahir kurang dari enam bulan setelah adanya persetubuhan dengan suami yang sah. Adapun status nasab anak tidak memiliki hubungan nasab dengan bapak biologisnya, karena anak tersebut lahir di luar perkawinan yang sah. Persamaan antara keduanya, yaitu dalam hal kewarisan, bahwa anak di luar nikah tidak mewarisi dari bapak biologisnya, melainkan hanya kepada ibu, dan keluarga ibunya. Anak di luar nikah juga tidak memperoleh hak nafkah dari bapak biologisnya. Adapun dalam perwalian, bapak biologisnya tidak berhak menjadi wali dari anak luar nikahnya, namun yang menjadi wali adalah wali hakim.

Berdasarkan hadist Nabi shallallahu alaihi wa sallam . dan pendapat syafi’I di atas, anak yang lahir seperti ini akan mempunyai akibat sebagai berikut

  1.       Tidak adanya hubungan nasab dengan bapaknya. Anak itu hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibunya.
  2.       Bapaknya tidak wajib memberikan nafkah kepada anak itu, namun secara biologis ia tetap anaknya. Jadi hubungan yang timbul hanyalah secara manusiawi, bukan secara hukum.
  3.       Tidak ada saling mewarisi dengan bapaknya, karena hubungan nasab merupakan salah satu penyebab kewarisan.

Dari imam Nawawi memiliki pendapat yang sama dengan Imam Syafi’I  berikut penjelasannya  yang artinya:

“ Sesungguhnya hukum anak lahir hasil zina adalah anak li’ an, karena ketetapan nasabnya adalah nasab ibunya, bukan dengan nasab bapaknya. Maka status hukumnya adalah anak yang li’ an “

Imam An-Nawawi mengatakan, “Ketika seorang wanita menikah dengan lelaki atau seorang budak wanita menjadi pasangan seorang lelaki, maka wanita tersebut menjadi firasy bagi si lelaki. Selanjutnya lelaki ini disebut “pemilik firasy”. Selama sang wanita menjadi firasy lelaki, maka setiap anak yang terlahir dari wanita tersebut adalah anaknya. Meskipun bisa jadi, ada anak yang tercipta dari hasil yang dilakukan istri selingkuh laki-laki lain. Sedangkan laki-laki selingkuhannya hanya mendapatkan kerugian, artinya tidak memiliki hak sedikitpun dengan anak hasil perbuatan zinanya dengan istri orang lain.” (Syarh Shahih Muslim, An-Nawawi, 10:37)

Untuk pendapat dari imam maliki, penulis belum menemukan adanya pendapat dari beliau . karena keterbatasan ilmu penulis sampai saat ini penulis sudah mencari pendapat imam maliki tentang status anak diluar nikah  tapi tidak ada referensi yang menyebutkan imam maliki memiliki pendapat tentang ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *